4 Alasan Kenapa Kartini Keren - SobatASK

4 Alasan Kenapa Kartini Keren

Klinik-Klinik Konseling Remaja di Semarang
21/04/2016
5 Fakta soal Depresi Menurut Seseorang yang Depresi
25/04/2016

Hari ini, SobatASK ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada seorang sosok keren yang lama jadi idola di Indonesia: Raden Ajeng Kartini!

Pemikiran dan curhatannya yang kritis tentang kesetaraan, kolonialisme, dan isu sosial lainnya terdokumentasi dengan baik dalam surat-surat yang ia kirim ke teman-temannya. Kumpulan surat inilah yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, dan membuat Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan.

Tapi, memangnya kenapa Kartini keren? Mending kami biarkan kata-katanya sendiri yang menjelaskan.

 

1. “Tahukah kamu bahwa kami para putri Jawa tak diizinkan membuka mulut saat tertawa? Aku sih tak peduli: jika aku ingin tertawa, aku mengakak saja.”

Bayangin gimana rasanya tinggal di keluarga Jawa abad ke-19 seperti Kartini. Perempuan tidak berhak memilih, tidak berhak bersuara, tidak bebas untuk bergerak dan beropini seperti sekarang. Bahkan pendidikan saja tidak didapat.

Urusan perempuan pada masa itu memang hanya dapur, kasur, dan sumur. Dunia inilah yang dihadapi Kartini. Masyarakat di mana perempuan tidak bisa bebas bersekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak ia kenal, dan rela dimadu.

 

2. “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”

Kartini sadar bahwa mencerdaskan perempuan adalah salah satu cara untuk membebaskan perempuan dari penindasan. Ini yang membuat dia ngebet bikin sekolah khusus perempuan di Indonesia.

Meski dia sudah mendorong habis-habisan agar sekolah untuk perempuan dibuka, usahanya menemui jalan buntu. Baru setelah ia meninggal, pada 1912 dibuka Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang, Jawa Tengah. Sekolah serupa kemudian dibuka di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan kota-kota lainnya.

Baca:  3 Situs Untuk Jadi Relawan

 

3. “Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.”

Ayah Kartini, RM Adipati Ario Sosroningrat, menyekolahkan Kartini sampai ia berusia 12 tahun. Namun, ketika ia sudah bisa dipingit pada usia 12 tahun, ia tidak diizinkan melanjutkan sekolah. Tadinya, Kartini ingin melanjutkan sekolah ke Eropa dan mewujudkan cita-citanya menjadi guru. Namun, ia tidak diizinkan berangkat ke Eropa, dan akhirnya belajar di Jakarta.

Meski peluang untuk belajar di Eropa terus terbuka baginya, saat ia berusia 24 tahun ia dinikahkan dengan bupati Rembang, Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, dan impiannya untuk belajar di Eropa pupus.

 

4. “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”

Tidak semua perjuangan dan impian Kartini berhasil terwujud selama ia hidup. Sekolah untuk perempuan yang ia impi-impikan baru berdiri delapan tahun setelah ia meninggal. Kumpulan surat dan pemikirannya pun baru terbit dan dirayakan lama setelah ia tiada.

Sejak tahun 1964, tanggal lahirnya (21 April) resmi diperingati sebagai Hari Kartini. Kebanyakan dari kita mungkin menganggap perayaan Hari Kartini sebagai acara ramai-ramai memakai kebaya, tapi Kartini lebih dari itu. Ide dan tulisannya mengubah pemikiran banyak orang, dan karena itulah dia masih jadi pahlawan kami.

 

Selamat ulang tahun, Kartini!

Artikel Terkait

Komentar

komentar