LGBT MULAI MARAK! Bagaimana Sebaiknya Kita Menyikapinya - SobatASK

LGBT MULAI MARAK! Bagaimana Sebaiknya Kita Menyikapinya

11 Mitos soal LGBT
04/04/2016
7 Tanda Temanmu Jadi Korban Kekerasan dalam Pacaran
05/04/2016

Belakangan ini, kayaknya isu LGBT makin ramai saja diobrolin semua orang. Mulai dari yang nyantai dan enak, sampai yang ribut-ribut dan sibuk menghakimi,  semuanya ada. Perdebatan ini bikin SobatASK bertanya-tanya, sebaiknya bagaimana cara kita menanggapi LGBT?

 

1. Ingat, Mereka Manusia Juga

Ini hal pertama dan paling penting untuk diingat. Hanya karena orientasi seksualnya berbeda denganmu, bukan berarti mereka lantas tidak memiliki martabat sebagai manusia. Mereka tetap berhak dilindungi hukum, mereka tetap berhak untuk hidup dan bekerja sebagaimana sesama manusia, dan mereka tetap menjadi bagian dari kehidupan kita yang beragam.

 

2. Kamu Berhak Tidak Sepakat, Tapi Tidak Berhak Menghakimi

Kamu berhak untuk beranggapan bahwa orientasi seksual tersebut adalah dosa. Kamu boleh tidak sepakat dengan orientasi seksual mereka. Itu adalah bagian dari hak pribadi kamu sebagai manusia.

Namun, hanya karena kamu tidak sepakat, bukan berarti kamu lantas berhak menghakimi dan merendahkan kemanusiaan mereka. Pun kamu tidak berhak memaksakan pendapat dan kehendakmu pada mereka. Logikanya begini: kamu yang heteroseksual tidak akan mendadak berubah menyukai sesama jenis hanya karena dikucilkan, disakiti, dan dipinggirkan, toh? Terus, kenapa kamu beranggapan bahwa mereka bisa dipaksakan juga?

 

10683556_956148324438481_9127624176542981927_o

 

3. Jangan Mudah Termakan Informasi Salah

Ada banyak sekali informasi dan wacana yang ngawur soal LGBT belakangan ini. Ketimbang kamu ikutan dibohongin, mending kamu baca dulu artikel SobatASK yang satu ini soal mitos dan fakta LGBT.

Jangan sampai kebencianmu membuatmu mau menelan informasi apa saja, padahal belum jelas itu info yang benar atau salah. Nanti malah bikin malu dirimu sendiri.

 

4. Memanusiakan Berarti Memperlakukan Secara Manusiawi. Titik.

Baca:  Belajar Gender lewat Kue!

Memanusiakan teman-teman LGBT tidak wajib disertai membenarkan atau sepakat dengan orientasi seksualnya. Seperti poin kedua, kamu boleh tidak sepakat namun tetap harus berlaku bijak dan adil.

Siapa pun berhak untuk hidup, bekerja, jalan-jalan, makan, minum, dan mencintai, mau mereka heteroseksual atau homoseksual. Mereka berhak untuk hidup dengan nyaman dan aman, bebas dari ancaman, tekanan dan intimidasi dari negara atau pihak-pihak yang kurang kerjaan dan enggak bertanggung jawab.

Selama dilakukan antara orang yang dewasa dan atas dasar persetujuan bersama (ini yang dinamakan konsensual, kalau belum terlalu paham buka dulu artikel kami soal konsensual), apa yang dilakukan oleh orang tersebut di kehidupan pribadinya bukan urusan kita, apalagi urusan negara.

 

5. Menerima Perbedaan itu Sederhana. Jangan Dibikin Susah.

Kita bukan bangsa yang homogen. Perjalanan kita yang panjang ini dibangun oleh orang dari latar belakang yang berbeda. Banyak orang dari berbagai suku, ras, kepercayaan, dan orientasi seksual telah bahu membahu untuk membuat hidup kita bersama jadi lebih baik. Selama bertahun-tahun, Indonesia dibangun dari penerimaannya atas keberagaman.

Enggak tahu kenapa, kita jadi terobsesi mau bikin semua orang jadi seragam – dan menghakimi orang yang enggak ‘normal’. Padahal, normal menurut siapa? Seragam dengan apa?

Kalau kamu tidak sepakat, tidak usah diikuti. Tapi bukan berarti kamu lantas berhak menindas dan menghakimi orang lain yang berseberangan dengan kamu. Mau itu atas dasar SARA, kepercayaan, atau orientasi seksual, ini prinsip yang sebenarnya gampang dipahami, tapi rupanya repot diamalkan.

Padahal, kalau kita bisa menoleransi dan menerima perbedaan saja daripada ribut-ribut enggak jelas, kita bisa…

 

6. Menyadari Bahwa Ada Hal-Hal Lebih Penting yang Harus Diurusi Ketimbang Orientasi Seksual Orang

Baca:  10 Contoh Seksisme yang NGESELIN

Misalnya: korupsi, ketidaksetaraan, kemiskinan, kelaparan, banjir dan bencana alam, nilai ujianmu yang jeblok melulu, dan kejombloanmu yang mulai menahun.

 

Yuk, kita belajar untuk berdialog secara sehat: tanpa menghakimi, tanpa menghujat, dan tanpa kekerasan. Percaya deh, berantem itu capek dan damai itu indah. Apalagi, kalau katanya sastrawan Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan!”

 

Artikel Terkait

Komentar

komentar