6 Alasan Pelaku Kekerasan Juga Butuh Konseling - SobatASK

6 Alasan Pelaku Kekerasan Juga Butuh Konseling

6 Tips kalau Kamu Jadi Korban Body Shaming
27/02/2017
9 Tips Berantem Secara Waras
28/02/2017

Kalau ada yang jadi korban kekerasan dalam pacaran, tentu masuk akal jika korban perlu menjalani konseling. Pasti banyak trauma, perasaan tertekan, dan luka batin (juga fisik) yang perlu disembuhkan. Tapi, bagaimana dengan pelakunya?

Percaya atau tidak, sebenarnya pelaku juga butuh ikut konseling, lho. Kenapa?

Karena dia (juga) butuh bantuan.

Tidak ada manusia yang terlahir jahat. Bahkan pelaku kekerasan dalam pacaran yang paling parah sekali pun pasti punya masalah yang perlu dia hadapi. Tahukah kamu kalau banyak pelaku kekerasan itu sendiri pernah jadi korban kekerasan?

Yang jadi masalah, dia melampiaskan masalahnya juga dengan kekerasan terhadap orang lain. Hal inilah yang membuatnya perlu mengobrol dengan konselor dan mencari akar permasalahannya dengan pihak lain yang punya sudut pandang berbeda.

 

Karena dia perlu mengetahui akar permasalahannya sendiri.

Beberapa orang menjadi pelaku kekerasan dalam pacaran karena dia melihat orang tuanya memperlakukan satu sama lain dengan kasar. Ada yang menjadi pelaku kekerasan karena trauma masa kecil. Ada yang pernah jadi korban kekerasan dalam pacaran juga dan sekarang malah membalas dendam ke orang lain.

Banyak banget alasan kenapa seseorang bisa jadi pelaku. Alasan itu harus dicari dan permasalahan itu harus dihadapi. Mau bagaimana pun juga, pelaku juga manusia yang punya batas. Bisa jadi, dia takut atau tidak mampu menghadapi masalah tersebut sendirian. Maka, mereka butuh konseling.

 

Karena dia perlu belajar berempati.

Jangan pikir bahwa konseling untuk pelaku itu bakal cuma membahas trauma masa lalunya pelaku, lho. Mau bagaimana pun juga, perilakunya tidak bisa dibenarkan. Banyak juga kok orang yang menghadapi trauma dan kekerasan di masa lalunya dan tidak jadi pelaku kekerasan.

Baca:  5 Hal yang Kamu Kira Bukan Seksualitas, Padahal Iya

Si pelaku harus belajar untuk berempati dan mencoba memahami sudut pandang orang lain. Jika tidak, masalah yang sesungguhnya enggak akan terselesaikan.

 

Karena dia perlu belajar melampiaskan secara lebih sehat.

Semua orang pasti punya trauma. Semua orang punya hal yang membuat mereka tertekan, marah, sedih, atau kecewa. Tapi, bukan berarti kamu berhak atau boleh melampiaskan kemarahanmu pada orang lain. Apalagi pasanganmu sendiri.

Melalui konseling, pelaku bisa belajar untuk mencari cara-cara lain melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mereka. Ada banyak kok cara melampiaskan emosi yang lebih sehat dan enggak menyakiti orang lain.

 

Karena dia perlu belajar berkomunikasi secara lebih sehat.

Salah satu penyakit para pelaku kekerasan dalam pacaran adalah mereka tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi secara sehat. Mereka bisa marah-marah, bisa membentak, bahkan bisa main tangan. Mereka kesulitan untuk menyampaikan maksud mereka secara tenang dan santai.

Ini satu lagi hal yang perlu dipelajari melalui konseling.

 

Supaya dia tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Iya dong! Tentu saja kita harus membantu dan merangkul korban. Mau bagaimana pun juga, dialah yang paling butuh uluran tangan kita. Tapi, bukan berarti pelaku kita biarkan dan anggap mati begitu saja. Jika kita biarkan saja, hampir bisa dipastikan dia akan mengulangi perbuatannya lagi. Karena, belum tentu dia sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah.

 

Ingin konselor yang tidak ribet, tidak mahal, dan tidak akan menghakimi kamu? Jangan khawatir. SobatASK kenal banyak konselor yang oke, kok. Temui mereka di Direktori Layanan kami. ☺

 

 

Sumber:
everydayvictimblaming.com/evb-analysis/counselling-perpetrators-and-womens-safety
domesticviolence.com.au/pages/getting-help-for-abusive-behaviours.php
hiddenhurt.co.uk/help_for_abusers.html

Artikel Terkait

Komentar

komentar