9 Mitos Soal Konseling - SobatASK

9 Mitos Soal Konseling

Apa itu Bulimia?
18/05/2017
5 Tips Pacaran di Bulan Puasa
30/05/2017

Banyak masalah yang bisa (mulai) diselesaikan kalau kamu konseling. Tapi, masih banyak yang takut konseling–termasuk kami juga–pada awalnya. Rupanya banyak ketakutan dan kekhawatiran kami soal konseling ternyata tidak benar, lho. Misalnya…

 

“Konseling hanya untuk orang yang gangguan mental”

Kata siapa konseling itu hanya untuk orang yang memiliki gangguan mental? Kamu juga bisa konseling kalau kamu galau soal sesuatu, gugup menjelang ujian, atau merasa kurang percaya diri.

Kalaupun kamu menghadapi masalah serius – misalnya, kamu korban kekerasan dalam pacaran – ikut konseling tidak berarti kamu gangguan jiwa yang berat (jika pun iya, tak masalah selama kamu mau menanganinya). Semua orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit, dan mencari bantuan melalui konseling adalah tanda kedewasaan.

 

“Orang yang ikut konseling itu manja”

Dalam konseling, kamu pasti diminta untuk membuka diri, jujur sepenuhnya, dan menceritakan apa yang membebanimu. Dan itu sama sekali enggak gampang! Tapi, itu langkah pertama untuk menyelesaikan masalahmu. Jadi, kalau kamu ikut konseling, kamu itu berani, bukan manja.

 

“Konselor bakal melapor ke orang lain”

Konselor, seperti dokter, punya kode etika. Pada dasarnya, kode etika adalah serangkaian peraturan dan janji yang harus mereka tepati. Salah satunya adalah janji untuk merahasiakan semua isi percakapan kalian.

Kalau kamu tidak mau isi percakapan kalian diceritakan ke orang lain, kamu bisa meminta dia untuk merahasiakan obrolan kalian, dan dia wajib menuruti permintaanmu.

 

“Teman dan keluargamu baik, jadi kamu tidak perlu ke konselor”

Teman dan keluarga adalah sumber dukungan yang penting, dan mereka jelas menyenangkan diajak curhat. Tapi, kadang kamu butuh sudut pandang orang lain yang lebih segar. Tidak ada salahnya mengobrol dengan konselor, yang mungkin punya pemikiran berbeda.

Baca:  10 Mitos tentang Kondom

 

“Konseling itu mahal dan ribet”

Belum tentu, kok. Beberapa klinik telah menerapkan program layanan ramah remaja. Dan klinik yang mengaku ramah remaja itu wajib menyediakan layanan secara mudah dan terjangkau. Artinya, layanan mereka tidak mahal, jam bukanya sesuai dengan jam sekolah atau kuliahmu, dan bahkan banyak konselornya masih seumuran kamu.

 

“Kalau ke konselor, kamu akan ketergantungan obat”

Lho, kamu itu belum tentu akan dikasih obat! Konselor itu lebih mirip teman curhat profesional yang bisa membantumu menghadapi masalahmu, dan memberi nasihat yang oke.

Kadang, dalam kasus-kasus darurat, konselor akan menyarankan kamu mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Tapi, hal ini belum tentu terjadi, dan obat apapun yang kamu minum pasti dikontrol secara ketat dosis dan efek sampingnya.

 

“Konseling itu enggak efektif”

Sudah begitu banyak riset yang menunjukkan bahwa konseling itu efektif. Hanya karena kamu pernah mendapat pengalaman konseling yang buruk sebelumnya (atau ada temanmu yang tidak cocok sama konselornya), bukan berarti kamu harus menyerah.

 

BONUS

Oke, misalnya kamu sudah mau konseling. Masih ada dua mitos yang harus kamu lupakan:

 

Konselor Bakal Memberitahu Kamu Apa yang HARUS Dilakukan

Konselor bukan superhero penyelamat yang akan memberitahumu apa yang HARUS kamu lakukan. Tugasnya adalah untuk membantumu memahami dan menghadapi masalah yang sedang kamu hadapi, dan menguatkanmu. Mereka akan membantumu berpikir, tapi tidak akan menyuruh-nyuruh kamu.

 

Perubahan Akan Segera Terjadi Setelah Konseling

Setelah 1-2 sesi, kamu mungkin akan merasa lebih tenang dan plong. Tapi, perubahan yang nyata butuh waktu. Konseling bukan sesuatu yang dilakukan sebentar, lalu dilupakan. Kalau kamu mau masalahmu benar-benar selesai sampai ke akarnya, kamu harus bersiap-siap melalui proses yang panjang. Jadi, sabar ya!

Baca:  Siklus Hidup HIV

 

Kalau kamu masih punya kekhawatiran soal konseling, jangan sedih. SobatASK kenal banyak konselor ramah remaja yang bisa kamu hubungi segera. Temui mereka di Direktori Layanan kami ☺

 

 

Sumber:
upstate.edu/currentstudents/support/scc/myths.php
ecu.edu/cs-studentaffairs/counselingcenter/myths.cfm

Artikel Terkait

Komentar

komentar