5 Ejekan yang Lebih Parah dari Ndeso - SobatASK

5 Ejekan yang Lebih Parah dari Ndeso

5 Pertanyaan Nyebelin yang Sering Dihadapi Jomblo
06/07/2017
5 Langkah Kalau Kamu Hamil dan Dikeluarkan dari Sekolah
09/07/2017


Baru-baru ini, ada berita yang menghebohkan para netizen. Kaesang Pangarep, vlogger ternama dan anak dari Presiden Joko Widodo, dilaporkan ke polisi atas tuduhan penistaan agama. Perkaranya, di vlog-nya, Kaesang menyebut anak-anak yang berteriak “Bunuh Ahok!” dengan sebutan “ndeso”.

Oke, terlepas dari apa pendapat kamu soal kasus Ahok beberapa waktu lalu, kita perlu mengakui satu hal: menuduh Kaesang melakukan penistaan agama hanya karena dia ngomong “ndeso” itu lebay. Percaya deh, banyak ejekan yang jauh lebih parah daripada hanya ndeso. Misalnya…

 

“Maho!”

Aduh, betapa nikmatnya hari-hari di Kaskus. Berantem sama orang di trit, dilempar bata, uji nyali ke forum DP, marah-marah sama pedagang di FJB yang menipu, dan berbahagia saat dikirim cendol.

Namun, salah satu sisi buruk yang dikenalkan oleh Kaskus adalah kebiasaan menghina orang lain dengan sebutan ‘maho’ yang merupakan singkatan dari ‘manusia homo’. Pertama, patut diketahui bahwa dalam bahasa Latin, kata ‘homo’ itu artinya manusia (makanya kalau kamu belajar IPA, manusia itu masuk ke spesies Homo Sapiens). Jadi, istilah ‘manusia homo’ itu membingungkan karena bila diterjemahkan secara literal berarti ‘manusia manusia.’ Sebagai hinaan, itu membingungkan banget.

Kedua, memangnya apa salahnya menjadi homoseksual? Kenapa itu harus jadi hinaan?

 

“Cacat!”

Kalau menurut KBBI Online, ‘cacat’ artinya: (1) Kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang baik atau kurang sempurna (yang terdapat pada badan, benda, batin, atau akhlak.

Sekarang pertanyaan kami, adakah yang sempurna di muka bumi ini selain suara Tulus dan senyum Chicco Jerikho? Jawabannya adalah tidak ada.

Entah apa yang terpikir ketika siapa pun juga mengejek orang lain dengan sebutan ‘cacat’. Selain maknanya yang kasar, sangat tidak oke kalau kita menghina orang lain dengan ejekan yang ngena ke orang yang betul-betul menyandang disabilitas. Mereka enggak minta untuk bernasib begitu dan ngehe aja kalau kita ngehina orang lain dengan istilah ini.

Baca:  7 Cara Lebih Inklusif terhadap Penyandang Disabilitas

 

“Autis!”

Mirip-mirip dengan apa yang kami sebut di nomor dua, menggunakan istilah autis sebagai ejekan itu nggak etis sama sekali. Autis itu kondisi yang perlu kita mengerti, bukan kita jadikan bahan ledekan.

 

“Kafir!”

Eh, ini mah. Hehe. He he. H     e     h     e. Ya sudah lah yah.

Artikel Terkait

Komentar

komentar