6 Langkah jika Orang Tuamu Jadi Korban KDRT - SobatASK

6 Langkah jika Orang Tuamu Jadi Korban KDRT

6 Mitos soal Feminisme
24/07/2017
Tempat yang Bisa Dituju Kalau Kamu Korban KDRT di Pulau Jawa
01/08/2017

Ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2016 berdasarkan catatan Komnas Perempuan. Mayoritas kasus kekerasan ini adalah kekerasan dalam rumah tangga, disusul kekerasan dalam pacaran, kekerasan terhadap anak perempuan, dan kekerasan yang dilakukan mantan pasangan dan kekerasan pada pekerja rumah tangga.

Data terbaru ini membenarkan asumsi terburuk kita: bahwa banyak anak muda di Indonesia tumbuh besar di rumah tangga yang penuh kekerasan–baik kekerasan fisik, mental, maupun psikis. Temanmu, tetanggamu, atau bahkan kamu sendiri bisa jadi anggota keluarga yang mengalami kekerasan.

Lalu, apa yang harus dilakukan kalau kamu melihat ibumu atau ayahmu menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga?

 

Pahami Bahwa Ini Salah Pelaku

Ini langkah pertama yang tidak boleh dilupakan. Kamu harus ingat bahwa kekerasan ini bukan salah orang tuamu yang menjadi korban dan juga bukan salahmu. Pilihan untuk melakukan kekerasan ada di tangan pelaku. Dia yang mengambil keputusan, bukan dia yang diprovokasi atau sekadar gelap mata.

Kenapa salah satu orang tuamu menjadi pelaku kekerasan? Ada banyak sekali alasan, mulai dari faktor ekonomi hingga faktor sosial. Walau tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (hal ini lebih sering terjadi dari yang kamu duga), namun secara statistik perempuan lebih sering jadi korban.

Kamu tahu sendiri kalau laki-laki selalu dituntut jadi pemimpin dalam rumah tangga. Mungkin, maksud dari tuntutan ini baik, namun kadang sang laki-laki malah jadi pemimpin yang seenaknya sendiri: ia merasa berhak “mendidik” dan mengendalikan istrinya dengan kekerasan.

Selain itu, faktor psikologis juga berpengaruh. Bisa jadi, pelaku sedang berada dalam tekanan batin yang luar biasa karena faktor-faktor tertentu, himpitan ekonomi, misalnya. Kemudian, ia melampiaskan rasa frustrasinya dengan berusaha mengendalikan hal-hal yang ada di rumahnya, seperti istrinya sendiri.

Intinya, semua ini menunjukkan bahwa kesalahan ada di tangan pelaku. Konflik dan perbedaan pendapat itu wajar dalam hubungan apa pun, namun bukan berarti harus diselesaikan dengan kekerasan.

 

Korban Tidak Bisa Pergi Begitu Saja

Bercerai dengan pasangan yang melakukan kekerasan atau minimal meninggalkan pasangan tersebut mungkin terdengar seperti solusi terbaik. Tapi, bagi korban, solusinya tidak sesederhana itu. Ada banyak alasan kenapa seorang korban tetap bertahan dengan pasangan yang melakukan kekerasan dan kamu perlu memahami alasan-alasan tersebut. Mungkin orang tuamu yang jadi korban bergantung secara ekonomi pada pelaku kekerasan. Mungkin, orang tuamu yang jadi korban takut pada balas dendam yang akan dilakukan pelaku kalau dia pergi.

Atau mungkin, orang tuamu yang jadi korban memang masih sayang pada pelaku. Kamu tidak bisa menafikan bahwa mungkin, dalam hubungan tersebut, korban masih merasakan cinta, lho.

Jadi…

 

Baca:  3 Hasil Musyawarah Ulama Perempuan soal Kekerasan Seksual
Beri Dukungan, Jangan Menghakimi

Ia tidak butuh kamu hakimi atau kamu ceramahi. Jangan menambah beban orang tua yang sudah kesulitan dan mengalami tekanan batin karena jadi korban KDRT.

Sebaiknya, beri dukungan saja. Tunjukkan pada orang tuamu kalau kamu masih peduli padanya, kalau kamu mencintainya tanpa syarat, dan kamu menghormatinya. Yang terakhir itu penting karena korban KDRT seringkali merasa tidak berdaya, tidak berarti, dan selalu salah.

Kamu perlu menunjukkan bahwa kamu masih menghormatinya sebagai orang tua dan sebagai manusia. Ajak dia nonton film bareng, makan berdua, kirimi chat atau SMS lucu untuk menunjukkan bahwa kamu masih peduli padanya, tunjukkan rasa sayangmu padanya. Sekali lagi, jangan tambah beban mental dia.

 

Jangan Berbicara Terlalu Blak-Blakan soal Kekerasan yang Ia Hadapi

Ia mungkin tidak berani berbicara tentang kekerasan tersebut atau takut kamu melapor. Mau bagaimana pun, ia harus memiliki rasa percaya padamu. Kamu harus menguatkannya dulu dan menyadari bahwa dia manusia dewasa yang perlu mengambil keputusannya sendiri. Ia mungkin perlu berproses, perlu merenung, dan perlu menimbang-nimbang risiko bila ia mencoba melawan kekerasan tersebut. Biarkan ia berpikir, beri dia waktu dan ruang gerak.

Jika dia sudah mulai percaya padamu dan mulai berbicara padamu tentang kekerasan tersebut, kamu bisa mengarahkannya ke pihak-pihak yang bisa membantu. Kalau kamu punya saudara yang bisa bersifat obyektif dan tidak memihak, mungkin ia bisa jadi penengah. Kalau kamu punya ustadz, pastur, atau pemuka agama lain yang mungkin bisa jadi penengah diskusi antara kedua orang tuamu, coba hubungi mereka dan jelaskan situasinya. Kalau mau lebih aman, kamu bisa mencari konselor yang memang khusus menangani kasus-kasus KDRT.

 

Baca:  10 Tanda Pacarmu Melakukan Kekerasan
Bikin Rencana Bareng-Bareng

Apa yang terjadi kalau kamu dan orang tuamu yang jadi korban diusir dari rumah? Ke mana orang tuamu yang jadi korban harus pergi kalau dia mengalami kekerasan lagi? Apakah ada orang yang bisa dihubungi untuk menjemputmu dan orang tuamu bila kalian mau pergi dari rumah? Apakah orang tuamu yang jadi korban mau menuntut pelaku secara hukum? Jika ia ingin bercerai, apa saja yang harus disiapkan agar perceraiannya mudah di Pengadilan Agama? Jika ia ingin bertahan, gimana caranya agar kekerasan tidak terjadi lagi?

Inilah yang dinamakan safety plan. Kamu perlu punya rencana jika keadaan memburuk dan kamu serta orang tuamu yang jadi korban harus menanggapi kekerasan tersebut. Baiknya, safety plan ini diobrolin bareng sama konselor karena mereka yang jauh lebih berpengalaman membuat rencana-rencana seperti ini.

 

 

TERAKHIR: Jaga Dirimu Sendiri

Ketika orang tua melakukan kekerasan, sebetulnya anak juga menjadi korban. Mereka tinggal di rumah tangga yang tidak harmonis, di mana orang tua mereka menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan, dan menyimpan dendam pada orang tua yang melakukan kekerasan. Anak dari rumah tangga yang penuh kekerasan lebih berisiko mengalami trauma psikologis, gangguan mental, dan berisiko melakukan kekerasan juga di masa depan.

Maka, jaga dirimu sendiri. Terkadang, kamu boleh jaga jarak bila perlu. Cari teman curhat yang baik, yang tidak menghakimi dan mau mendengarkanmu. Lakukan hal-hal yang membuatmu senang dan keluarkan energi secara positif. Bila perlu, temui konselor dan mengobrol dengannya.

Hanya karena rumah tangga orang tuamu tidak harmonis, bukan berarti hidup dan masa depan kamu bakal kacau.

Jaga diri ya, semuanya! ☺

Artikel Terkait

Komentar

komentar