Cara Mudah Mengajarkan Pendidikan Kespro bagi Penyandang Disabilitas - SobatASK

Cara Mudah Mengajarkan Pendidikan Kespro bagi Penyandang Disabilitas

5 Masalah Seksualitas yang Dihadapi Penyandang Disabilitas
08/09/2017
Tempat Tes HIV AIDS di Jawa Timur
13/09/2017


Sebelumnya kami pernah menulis tentang kendala-kendala khusus yang dihadapi penyandang disabilitas terkait kesehatan seksual dan reproduksi mereka. Penyandang disabilitas, selayaknya manusia kebanyakan, juga aktif secara seksual dan menemui masalah-masalah yang sama rumitnya–dan bahkan lebih rumit–dari nondisabilitas.

Pendidikan kesehatan reproduksi pun masih susah untuk diakses oleh publik–apalagi oleh penyandang disabilitas. Untungnya, kami menemukan alat belajar yang cakep berupa modul berjudul Maju (untuk tunarungu) dan Langkah Pastiku (untuk tunanetra). Modul ini dirancang secara khusus untuk mengajarkan kesehatan reproduksi pada penyandang disabilitas.

Berikut alasan kenapa alat belajar kayak gini perlu banget!

 

Karena Penyandang Disabilitas Lebih Berisiko

Anggapan bahwa penyandang disabilitas enggak aktif secara seksual enggak cuma salah kaprah, tapi anggapan itu juga berbahaya. Karena asumsi ngawur ini, penyandang disabilitas seringkali tidak diajarkan bahwa ia berhak memegang kendali atas tubuhnya sendiri. Maksudnya? Penyandang disabilitas enggak dibiasakan memahami bahwa mereka berhak menolak atau merasa tidak suka ketika ada orang lain yang seenaknya menyentuh tubuh mereka.

Alhasil, penyandang disabilitas jauh lebih berisiko menjadi korban kekerasan seksual ketimbang nondisabilitas. Terutama penyandang disabilitas mental yang seringkali mendapat perlakuan diskriminatif dan ngeri dari orang tuanya. Fakta singkat: ketika seseorang dipasung, perilaku tersebut tak hanya biadab, tapi membuat korban pasung jadi sangat rentan terhadap kekerasan–termasuk kekerasan seksual.

 

Karena Mereka Susah Mengakses Informasi

Bagi nondisabilitas, mengakses informasi soal kesehatan reproduksi saja susahnya minta ampun. Entah guru kamu merasa obrolan tersebut tabu atau malah menganggap kamu tidak perlu tahu terlalu banyak karena masih kecil, anak muda di Indonesia seringkali tak mendapatkan informasi yang penting dan mereka perlukan hanya karena tidak ada yang menyediakan informasi yang tepat.

Baca:  Klinik Griya Lentera Yogyakarta

Nah, bayangkan apa yang dialami oleh penyandang disabilitas. Tunanetra, misalnya, hanya bisa mengakses buku yang ditulis dengan huruf Braille atau materi belajar-mengajar yang disampaikan dengan suara. Tunarungu bakal kebingungan kalau ada kelas yang enggak menyediakan juru bahasa isyarat. Tunadaksa enggak akan bisa menghadiri kelas apapun kalau ruang kelasnya ada di lantai dua dan dia harus naik tangga. Pusing, kan?

Jadi, cara-cara kecil dan sederhana untuk membantu mereka (dan juga semua orang) mengakses informasi tentang kesehatan seksual itu penting banget. Bukan cuma karena mereka lebih rentan kekerasan seksual dan lebih terancam, tapi karena sama seperti nondisabilitas, juga berhak tahu.

 

Mereka berhak bertanya. Mereka berhak jatuh cinta, patah hati, dan merasa nyaman dengan tubuhnya sendiri–sama seperti nondisabilitas.

 

Modul Langkah Pastiku dan Maju bisa kamu dapatkan dengan menghubungi tim Rutgers WPF di sini.

Artikel Terkait

Komentar

komentar