Tips kalau Kamu Jatuh Cinta Pas Traveling - SobatASK

Tips kalau Kamu Jatuh Cinta Pas Traveling

7 Tempat Online Kalau Kamu Mau Belajar Kespro
05/12/2017
5 Tips Kalau Pasanganmu Pernah jadi Pelaku KDP
02/04/2018

Ketika kamu traveling ke negara lain, liburan sebentar ke Bali, luar kota, atau tempat-tempat lainnya, satu hal bisa terjadi: kamu bisa cinlok!

Hal ini lebih sering terjadi dari yang kamu pikir, lho. Entah kamu jatuh cinta dengan sesama traveler yang lagi sama-sama #wanderlust atau kamu naksir setengah mati dengan mas-mas yang beda bahasa atau mbak-mbak yang kamu temui di pantai atau restoran. Jatuh cinta dalam perjalanan jauh seperti itu memang menyenangkan–kamu lagi traveling, kamu lebih berani mengambil risiko, dan kamu lebih membuka diri pada pengalaman-pengalaman baru. Tapi, kalau kamu enggak hati-hati, jatuh cinta pas traveling bisa bikin kamu hancur-hancuran.

Berikut tips dari kami agar kisah cintamu saat lagi traveling berjalan mulus dan enggak bikin kamu trauma.

Jangan Berharap Terlalu Banyak

Dia bukan pangeran atau putri eksotis dari negeri seberang yang digariskan untuk jadi cinta sejatimu. Atau seenggaknya, dia belum tentu serius sama kamu. Saat kamu liburan, kamu emang jauh lebih lepas dan jauh lebih santai, sehingga hal-hal kecil bisa bikin kamu naksir. Enggak ada salahnya untuk berpikir, “Ah ya sudah, jalani saja dulu!”, tapi jangan terlalu baper ya.

Pahami bahwa ada kemungkinan kalau kamu bukan traveler pertama yang dia dekati. Kalau kamu ketemu surfer Bali di pantai yang emang rame turis, dan kamu naksir berat sama dia, belum tentu kamu perempuan atau laki-laki pertama yang bikin dia mabuk kepayang. Jadi, jangan berlebihan.

Kalau dia memang orangnya asyik dan kamu nyaman dengannya, jalani saja dulu dan bersenang-senanglah. Tapi, ya jangan langsung mikir kalau dia adalah cinta sejatimu untuk selama-lamanya sambil nyanyi lagu “Akad” dari Payung Teduh.

 

Kamu Belum Tentu (((Cinta))) Sama Dia

Kami tanya deh: kamu cinta sama diatau kamu naksir berat saja?

Paham, kok, dia pasti menggoda banget buatmu. Kamu lagi traveling, kamu lagi senang dan bebas dari hiruk pikuk kehidupan di kota asalmu, dan kamu ketemu orang keren yang bikin kamu merasa bahagia banget. Tapi, kamu bahagia karena kamu jatuh cinta, atau kamu bahagia karena kamu memang lagi traveling dan lagi senang-senang saja?

Kalau kamu ketemu orang ini di kota asalmu, di kehidupanmu sehari-hari, apakah kamu bakal senaksir itu? Apakah kamu bakal mau mengenalkan dia ke orang tuamu, ke teman-temanmu?

Kalau jawabannya enggak, apakah berarti kamu harus putus? Ya enggak usah begitu juga, kok. Cuma risikonya, artinya kamu jangan berlebihan dan jangan menaruh harapan terlalu tinggi padanya. Kasihan dia dan yang paling penting, kasihan dirimu sendiri.

Baca:  7 Tips Kalau Kamu Balikan dengan Mantan

 

Jangan Ambil Risiko yang Tidak Perlu

Kalau kamu memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari pelukan, tolong banget nih, jangan lupa: pakai kondom.

Ini serius. Kami tahu belum tentu semua orang akan melakukan ini, tapi ya (((kalau))) kamu melakukan hal tersebut, jangan ambil risiko terpapar infeksi menular seksual, apalagi hamil gara-gara keisengan pas lagi traveling. Selalu jaga dirimu sendiri dan utamakan kesehatanmu sendiri, jangan kesandung gara-gara masalah yang enggak perlu.

Pun kalau kamu bukan tipe yang berhubungan seks dengan orang lain…

 

Pahami Batasanmu Sendiri

Di budayanya, mungkin berpegangan tangan dan berciuman pada kencan pertama itu wajar. Buat kamu? Belum tentu, bukan?

Kalau kamu nyaman dan ingin melakukan itu, ya sudah lakukan saja seperti di poin keempat. Tapi kalau kamu enggak nyaman, jangan langsung marah dan teriak-teriak. Pahami bahwa mungkin ekspektasi kalian berbeda atau budaya dan tata krama kalian berbeda. Komunikasikan ini dengan baik-baik dan ingat: kamu tidak perlu melakukan apa pun yang tidak nyaman bagimu. Kalau kamu diajak melakukan sesuatu, sementara nuranimu enggak tenang dan kamu gelisah, ya jangan dilakukan. Mau kamu di rumah, di kota sebelah, atau di luar negeri, jangan lakukan.

Pertahankan prinsip dan sikapmu saja. Dan jika dia adalah pasangan yang pantas buat diladeni, dia bakal bisa menghormati hal itu.

 

Jembatani Perbedaan Budaya Kalian

Mau bagaimana pun, akan ada hal-hal tertentu yang tidak bisa sama. Budaya kamu dan dia bakal berbeda jauh, dan kalian harus bisa mencari kompromi. Enggak bisa dia menuruti kamu seratus persen, tapi enggak bisa juga kamu menurutinya sepenuhnya. Harus ada jalan tengah yang sama-sama nyaman buat kalian, dan tidak melanggar prinsip atau nurani kalian sendiri.

Hal ini termasuk bahasa. Kalian sudah sepakat akan berbicara dengan bahasa siapa? Akan jauh lebih cakep jika kalian ngobrol dengan bahasa yang kalian sama-sama tahu (bahasa Inggris, atau semacamnya), tapi kalian sama-sama punya itikad baik untuk mempelajari budaya dan bahasa satu sama lain. Mau enggak mau, kalian memang harus nge-blend.

 

Kamu Bisa Kehilangan Momen-Momen Menakjubkan

Kamu enggak akan traveling atau liburan selamanya. Dalam waktu sebulan, atau dua minggu, kamu harus balik ke kota asalmu. Entah karena cutimu sudah selesai, karena visamu sudah habis, atau karena duitmu sudah enggak ada saja. Dalam rentang waktu yang singkat itu, kamu pasti bakal menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengannya.
Artinya, kamu mungkin akan batal mengunjungi pantai tersembunyi yang asyik itu karena dia lagi sakit dan kamu mau mengurus dia. Kamu mungkin bakal gagal ke konser band keren yang kamu tunggu-tunggu itu karena dia lagi ngambek dan enggak mau keluar rumah. Prioritas kamu adalah dia, bukan perjalananmu sendiri.

Baca:  5 Langkah Pedofil untuk Mendapatkan Korban

Kami enggak bilang bahwa ini salah. Kalau kamu memang siap menanggung risiko tersebut dan mengorbankan pengalaman-pengalaman baru tersebut demi dia, itu hak kamu. Cuma, baiknya kamu paham risiko ini.

 

Pada Suatu Saat, Kalian Harus Berencana atau Berpisah

Sekali lagi, akan tiba masa di mana kamu harus balik ke kota asalmu. Dan saat itu terjadi, kamu harus merencanakan hubunganmu dengannya atau berpisah baik-baik.

Pertama, enggak semua orang kuat hubungan jarak jauh atau LDR. Okelah, ada Skype dan media sosial, tapi apa kamu enggak kangen ketemu dia? Dan kalau dia cuma ada di kota lain di negara yang sama, masih oke lah. Kalau dia di negara lain?

Kalian harus berencana, kamu yang akan ke negaranya lagi atau dia yang ke negaramu? Butuh duit berapa untuk itu? Siapa yang mau bayarin? Apakah dia yang akan ke negara kamu, tapi kamu yang bantu nanggung hidupnya di sini? Kamu mampu atau enggak?

Kalau suatu saat nanti kalian memutuskan untuk melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang yang lebih serius, kalian akan menikah di Indonesia atau di negara dia? Apakah gampang bagi WNI untuk menikah di negaranya? Baik Indonesia maupun negara manapun di dunia enggak segampang itu lho menerima imigran dari luar negeri. Tata cara pengurusannya memang ada, dan banyak banget yang sudah menjalani hal tersebut, tapi kamu berani enggak menanggung risiko repot?

Kalau jawabannya enggak, dan ternyata hubungan itu memang hanya untuk sementara, nggak apa-apa juga. Selama kalian sama-sama mau, sama-sama nyaman dengan satu sama lain, dan enggak ada yang merasa prinsip dan haknya dilanggar, enggak ada salahnya juga.

Tapi artinya, kamu harus bersiap-siap menghadapi kesimpulan yang pedih: bahwa dia memang tidak ditakdirkan untukmu dan mau enggak mau kalian harus berpisah.

 

 

Sumber:
youngadventuress.com
thoughtcatalog.com

Artikel Terkait

Komentar

komentar